Selasa, 20 Desember 2011

catt PIP


SISTEM PENDIDIKAN DI JEPANG

Preschool & Taman Kanak-kanak

Pendidikan anak usia dini dimulai di rumah. Ada banyak buku dan acara televisi yang ditujukan untuk membantu ibu & ayah untuk mendidik anak-anak mereka dan metode ini dianggap lebih efektif. Sebagian besar pelatihan rumah dikhususkan untuk mengajar tata krama, perilaku sosial yang tepat, dan bermain terstruktur, meskipun jumlah verbal dan keterampilan juga tema populer. Orang tua sangat berkomitmen untuk pendidikan awal dan sering mendaftarkan anak-anak mereka di TK. Selain TK terdapat sistem yang dikembangkan dengan baik pusat penitipan anak yang diawasi pemerintah (hoikuen 保育 园).
Berikut ini kegiatan anak-anak di tingkat Tk (mulai dari jam 8.50 – 15.00) antara lain: masuk kelas, menaruh barang di loker, duduk di bangku masing-masing, absen, salam, materi hari ini, istirahat (ke toilet latihan cara buang air sendiri, cebok, dan mencuci tangan dengan sabun), menyanyi, senam pagi, kembali ke kelas, mencopot kaus kaki, bermain (di luar kelas/di kebun/halaman sekolah), merapikan alat bermain, bersiap makan (cuci tangan dan ugai = memasukkan air ke tenggorokan tapi tidak ditelan, untuk mencegah batuk/pilek), kembali ke kelas untuk makan siang (bento =bekal makan masing-masing), menggosok gigi, bermain di kelas (permainan tradisional atau modern), bersiap untuk pulang, menyanyi lagu/salam perpisahan, baris per kelas di depan sekolah, pulang.

Pendidikan Wajib
Wajib sekolah berlaku bagi anak usia 6 sampai 15 tahun, tetapi kebanyakan anak bersekolah lebih lama dari yang diwajibkan. Tiap anak bersekolah di SD pada usia 6 tahun hingga 12 tahun, lalu SMP hingga usia 15 tahun. Pendidikan wajib ini bersifat cuma-cuma bagi semua anak, khususnya biaya sekolah dan buku. Untuk alat-alat pelajaran, kegiatan di luar sekolah, piknik dan makan siang di sekolah perlu membayar sendiri. namun bagi anak-anak dari keluarga yang mengaku kurang mendapat bantuan khusus dari pemerintah pusat dan daerah.
Di samping itu ada juga bantuan untuk kebutuhan belajar, perawatan kesehatan, dan lain-lain. Seorang anak yang telah tamat SD diwajibkan meneruskan pendidikannya ke jenjang SMP. Dengan demikian, sekolah wajib ditempuh selama 9 tahun; 6 tahun di SD dan 3 tahun di SMP.
Hampir semua siswa di Jepang belajar bahasa Inggris sejak tahun pertama SMP, dan kebanyakan mempelajarinya paling tidak selama 6 tahun. Mata pelajaran wajib di SMP adalah bahasa Jepang, ilmu-ilmu sosial, matematika, sains, musik, seni rupa, pendidikan jasmani, dan pendidikan kesejahteraan keluarga. Semua mata pelajaran tersebut diberikan pada waktu yang berlainan setiap hari selama seminggu sehingga jarang ada jadwal pelajaran yang sama pada hari yang berbeda.
Tahun ajaran biasanya dimulai bulan April. Satu tahun ajaran dibagi menjadi 3 semester yang dipisahkan oleh liburan singkat musim semi dan musim dingin, serta liburan musim panas yang lebih panjang (lama liburan sekolah bergantung kepada iklim tempat sekolah tersebut berada). Di Hokkaido dan tempat-tempat yang banyak turun salju, libur musim dingin lebih panjang dan libur musim panas lebih pendek.
Pendidikan Menengah Atas
Ada tiga jenis SMA, yaitu: full time, part time (terutama malam hari), dan tertulis. Sekolah menengah yang full time berlangsung selama 3 tahun, sedangkan kedua jenis sekolah lainnya menghasilkan diploma yang setara. Tapi kebanyakan siswa di Jepang mendapat pendidikan menengah atas di SMA full time. Jurusan di SMA dapat dikategorikan ke dalam beberapa jenis berdasarkan pola kurikulum, yaitu jurusan umum (akademis), pertanian, teknik, perdagangan, perikanan, home economic, dan perawatan. Untuk masuk ke salah satu jenis sekolah tersebut, siswa harus mengikuti ujian masuk dan membawa surat referensi dari SMP tempat ia lulus sebelumnya.
Meskipun SMA tidak wajib di Jepang, 94% dari semua lulusan SMP melanjutkan ke tingkat SMA. Di tingkat ini, mulai banyak sekolah milik swasta (mencapai sekitar 55% ).
Siswa SMA tidak mengikuti ujian kelulusan secara nasional, tetapi ada beberapa prefecture yang melaksanakan ujian. Penilaian kelulusan siswa berbeda di setiap prefecture. Mengingat angka Drop out siswa SMA meningkat di tahun 1990-an, maka beberapa sekolah tidak mengadakan ujian akhir, jadi kelulusan hanya berdasarkan hasil ujian harian.
Untuk masuk universitas, siswa lulusan SMA diharuskan mengikuti ujian masuk universitas yang berskala nasional. Ini yang dianggap `neraka` oleh sebagian besar siswa SMA. Ujian masuk PT dilakukan dua tahap. Pertama secara nasional- soal ujian disusun oleh Ministry of education, terdiri dari lima subject, sama seperti ujian masuk SMA-, selanjutnya siswa harus mengikuti ujian masuk yang dilakukan masing2 universitas, tepatnya ujian masuk di setiap fakultas. Skor kelulusan adalah akumulasi ujian masuk nasional dan ujian di setiap PT. Seperti halnya di Indonesia, skor hasil UMPTN tidak diumumkan, tetapi jawaban ujian diberitakan via koran, TV atau internet, sehingga siswa dapat mengira2 sendiri berapa total score yg didapat. Siswa yang memilih Universitas dg skor tinggi, tapi ternyata skornya tidak memadai, dapat mengacu ke pilihan universitas ke-2. Namun jika skornya tidak mencukupi, maka siswa tidak dapat masuk Universitas. Selanjutnya dia dapat mengikuti ujian masuk PT swasta atau menjalani masa ronin (menyiapkan diri untuk mengikuti ujian masuk di tahun berikutnya) di prepatory school (yobikou)
Pendidikan Tinggi
Ada tiga jenis lembaga pendidikan tinggi, yaitu: universitas, junior college (akademi), dan technical college (akademi teknik). Di universitas terdapat pendidikan sarjana (S-1) dan pascasarjana (S-2 dan S-3). Pendidikan S-1 berlangsung selama 4 tahun, menghasilkan sarjana bergelar Bachelor’s degree, kecuali di fakultas kedokteran dan kedokteran gigi yang berlangsung selama 6 tahun. Pendidikan pascasarjana dibagi dalam dua kategori, yakni Master’s degree  (S-2) ditempuh selama 2 tahun sesudah tamat S-1dan Doctor’s degree (S-3) ditempuh selama 5 tahun.
Junior college memberikan pendidikan selama dua atau tiga tahun bagi para lulusan SMA. Kredit yang diperlukan di junior college dapat dihitung sebagai bagian dari kredit untuk memperoleh gelar Bachelor’s degree (S-1). Jadi sistem pembayarannya sama dengan program S-1. Lulusan sekolah menengah (setingkat SMP) dapat masuk ke technical college (akademi teknik). Pendidikan di lembaga ini berlangsung selama 3 tahun (full time) untuk mencetak tenaga teknisi.
Tahun akademik dimulai sekitar bulan April dan berakhir Maret tahun berikutnya. Perkuliahan dibagi dalam dua semester, semester pertama berlangsung dari Maret sampai dengan September dan semester kedua dimulai dari bulan oktober dan berakhir Maret.
Bahasa yang umum digunakan dalam proses belajar mengajar adalah bahasa Jepang. Namun, ada beberapa program tertentu yang menggunakan bahasa Inggris sebagai perantara. Oleh karena itu setiap mahasiswa asing yang ingin melanjutkan studi ke Jepang perlu mempersiapkan kemampuan bahasa ini dengan sebaik mungkin.
Universitas dan junior college memilih mahasiswanya berdasarkan hasil ujian masuk serta hasil prestasi belajar dari SMA. Untuk sekolah negeri dan umum daerah, sejak tahun 1979 diberlakukan “tes gabungan kecakapan” yang seragam, sebagai tahap pertama dari sistem ujian masuk. Tahap kedua berupa ujian masuk universitas yang bersangkutan sebagai seleksi final.
Pendidikan tinggi di Jepang berada di bawah pengelolaan tiga lembaga, yaitu pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pihak swasta. Ada lima jenis pendidikan tinggi yang bisa dipilih mahasiswa asing di negara Jepang ini, yaitu: program sarjana, pascasarjana, diploma (non gelar), akademi, dan sekolah kejuruan. Program sarjana menerima tiga macam mahasiswa, yaitu: mahasiswa reguler, mahasiswa pendengar, dan mahasiswa pengumpul kredit. Mahasiswa reguler adalah mereka yang belajar selama 4 tahun, kecuali jurusan kedokteran yang harus menempuh 6 tahun. Mahasiswa pendengar adalah mahasiswa yang diijinkan mengambil mata kuliah tertentu dengan syarat dan jumlah kredit yang berbeda di setiap universitas tetapi kredit itu tidak diakui, jadi disamakan. Adapun mahasiswa pengumpul kredit hampir sama dengan mahasiswa pendengar, tetapi kreditnya diakui.
Sedangkan program pascasarjana terdiri atas program Master, Doktor,  Mahasiswa Peneliti, Mahasiswa Pendengar, dan Pengumpul Kredit. Mahasiswa Peneliti adalah mahasiswa yang diijinkan melakukan penelitian dalam bidang tertentu selama 1 semester atau 1 tahun tanpa tujuan mendapatkan gelar. Program ketiga adalah diploma, yang lama pendidikannya 2 tahun. Enam puluh persen dari program ini diperuntukkan bagi pelajar perempuan dan mengajarkan bidang-bidang seperti kesejahteraan keluarga, sastra, bahasa, kependidikan, kesehatan, dan kesejahteraan.
Akademi atau special training academy adalah lembaga pendidikan tinggi yang mengajarkan bidang-bidang khusus, seperti keterampilan yang diperlukan dalam pekerjaan atau kebidupan sehari-hari dengan lama pendidikan antara 1 sampai 3 tahun. Adapun sekolah kejuruan adalah program khusus untuk lulusan SMP dengan lama pendidikan 5 tahun dan bertujuan membina teknisi yang mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Berikut ini 10 top ranking Universitas di Jepang,by 2010 University Web Ranking
1.       Universitas Keio
2.       Universitas Tokyo        
3.       Universitas Waseda
4.       Universitas Osaka
5.       Universitas Hokkaido
6.       Institut Tekhnologi Tokyo
7.       Universitas Hiroshima
8.       Universitas Kobe
9.       Universitas  Kyoto
10.     Nihon University         

(untuk melihat 741 ranking lainnya bisa dicek melalui http://www.4icu.org/jp/)


KEADAAN PENDIDIKAN JEPANG
Perbandingan sistem pendidikan tradisional dengan modern  
Jepang membuat kejutan baru. Kali ini berkaitan dengan sistem dan prestasi di bidang pendidikan. Banyak pengamat pendidikan dan pembangunan di Amerika Serikat melihat bagaimana sistem pendidikan di Jepang telah berhasil mencetak tenaga kerja dengan semangat, motivasi dan watak yang sempurna bagi pembangunan. Sebagai suatu masyarakat yang sepenuhnya mengakui peran pendidikan dalam pembangunan, para ahli di A.S. mulai menengok sistem pendidikan di Jepang, sekaligus mengevaluasi sistem pendidikan di,A.S. sendiri.
        
Antara Menghafal dan Berfikir
Dimana letak kehebatan sistem pendidikan di Jepang ? Para ahli dan pengamat pendidikan boleh kecewa. Ternyata sistem pendidikan Jepang, kalau dilihat dengan kacamata teori pendidikan barat, bisa dikategorikan sebagai suatu sistem pendidikan tradisional. Pemerintah pusat memegang kontrol pendidikan, termasuk menentukan kurikulum yang berlaku secara nasional baik bagi sekolah negeri ataupun swasta. Pengajaran menekankan hafalan dan daya ingat untuk menguasai materi pelajaran yang diberikan. Materi pelajaran diarahkan agar murid bisa lulus ujian akhir atau test masuk ke sekolah lebih tinggi, tidak mengembangkan daya kritis dan kemandirian murid. Semua murid diperlakukan sama, tidak ada treatment khusus untuk murid yang tertinggal.
Sekolah menekankan pada diri murid sikap hormat dan patuh kepada guru dan sekolah. Dengan singkat sistem pendidikan Jepang dapat dikatakan suatu sistem pendidikan yang "kaku, seragam dan tiada pilihan bagi anak didik". Di pihak lain, sebanyak 78 halaman laporan team Jepang antara lain menyatakan pujiannya atas fleksibilitas sistem pendidikan Amerika Serikat. Di samping itu, juga disebut bahwa meski anak didik di Jepang memiliki prestasi lebih tinggi dari pada prestasi anak Amerika, namun hal itu dicapai dengan pengorbanan yang tidak ringan. Antara lain murid-murid di Jepang tidak bisa "menikmati" enaknya sekolah.
Sebab dari waktu ke waktu anak didik di Jepang dikejar-kejar oleh pekerjaan rumah, ulangan dan ujian. Hasilnya murid-murid Amerika lebih independent dan innovative dalam berfikir, dan juga sudah barang tentu lebih bahagia dibandingkan dengan anak-anak didik di Jepang. Dengan demikian, kuranglah tepat kalau secara tegas ditarik kesimpulan bahwa sistem pendidikan yang menekankan disiplin dan hafalan serta daya ingat sebagaimana yang diterapkan di Jepang lebih hebat dari pada sistem pendidikan yang menekankan kebebasan, kemandirian dan kreatifitas individual sebagaimana yang diterapkan di Amerika Serikat.
Dibalik sistem pendidikan di Jepang yang kaku dan seragam tersebut sebenarnya ada beberapa hal yang patut dicatat. Pertama, dengan menegakkan disiplin patuh terhadap guru dan sekolah menyebabkan anak didik di Jepang secara riil  menggunakan waktu sekolah  lebih  besar dari  pada anak-anak sekolah di Amerika Serikat. Kedua, sistem pendidikan di Jepang telah berhasil melibatkan orang tua anak didik dalam pendidikan anak-anaknya. lbu, khususnya senantiasa memperhatikan, memberikan pengawasan dan bantuan belajar kepada anak-anaknya. Tambahan lagi, lbu-ibu ini terus secara berkesinambungan membuat kontak dengan para guru. Ketiga, di luar sekolah berkembang kursus-kursus yang membantu anak didik untuk mempersiapkan ujian atau mendalami mata pelajaran yang dirasa kurang. Keempat, status guru dihargai dan gaji guru relatif tinggi. Hal ini mengakibatkan pekerjaan sebagai guru mempunyai daya tarik.
           




MENGACA PADA PENDIDIKAN JEPANG
Dunia pendidikan di Negara kita saat ini sudah mulai menunjukkan perkembangan yang berarti. Berbagai sekolah dengan inovasi baru pun dibuka. Benarkah ini menunjukkan bahwa masyarakat kita sudah mulai memahami pentingnya pendidikan bagi kehidupan bangsa ini? Ataukah ini hanya lahan baru untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya?. Terlepas dari memahami atau tidak, yang terpenting adalah adanya kemajuan yang nyata dalam dunia pendidikan.
Jika kita melihat sejarah pendidikan di Jepang sebelum Restorasi Meiji, pendidikan pada awalnya berdasarkan sistem masyarakat feodal, yaitu pendidikan untuk samurai, petani, tukang, pedagang, serta rakyat jelata. Kegiatan ini dilaksanakan di kuil dengan bimbingan para pendeta Budha yang terkenal dengan sebutan Terakoya (sekolah kuil). Mirip dengan pesantren di Indonesia.
Setelah itu Jepang terus mengadakan reformasi pendidikan guna menjadikan bangsa itu sejajar dengan dunia barat, yang telah lebih dulu maju. Setelah Restorasi Meiji pemerintah gencar menerbitkan dan menerjemahkan berbagai macam buku serta mengirimkan pelajar ke berbagai negara untuk mendalami berbagai bidang ilmu. Usaha ini akhirnya  membuahkan hasil yang cukup memuaskan. Kemajuan pendidikan di Negara ini ternyata dibarengi dengan kemajuan industri yang menjadikan Jepang sebagai negara industri nomor satu di Asia.
Apa yang menjadikan Jepang menjadi demikian hebatnya?.Pada dasarnya pendidikan dan kebudayaan adalah dua hal yang erat hubungannya. Kebudayaan positif tentunya akan mampu mendidik dan membentuk karakter seseorang. Ciri khas bangsa Jepang adalah kehausan mereka akan ilmu yang tak pernah terpuaskan. Karena itu tidak heran bila kehidupan sehari-hari bangsa Jepang tidak akan lepas dari membaca. Di stasiun, perpustakaan, di jalan, atau secara ekstremnya dikatakan, di mana ada kehidupan, di situ mereka membaca. Bahkan hingga saat ini, koran adalah bacaan wajib mereka setiap hari. Ini merupakan budaya yang sangat positif dan patut kita tiru.
Menurut Wiliam K. Cummings, Jepang berhasil merombak masyarakat melalui pendidikan melalui beberapa faktor antara lain :
  1. perhatian pada pendidikan datang dari pelbagai macam pihak
  2. sekolah Jepang tidak mahal
  3. tidak ada diskriminasi terhadap sekolah
  4. kurikulum sekolah Jepang amat berat
  5. sekolah sebagai unit pendidikan
  6. guru terjamin tidak akan kehilangan jabatan
  7. guru Jepang penuh dedikasi
  8. guru Jepang merasa wajib memberi pendidikan "manusia seutuhnya”
  9. guru Jepang bersikap adil
Jika kita bandingkan dengan fenomena yang terjadi di Negara kita, beberapa hal  di atas tampak sangat bertolak belakang.
Menurut Danasasmita ada beberapa karakteristik yang mendorong bangsa ini maju. Ini dibuktikan dengan beberapa ucapan
  1. arigatou [terima kasih]. Orang Jepang menghargai jasa orang lain
  2. otsukaresamadeshita [maaf, Anda telah bersusah payah]. Orang Jepang menghargai hasil pekerjaan orang lain
  3. ganbatte kudasai [berusahalah!]. Perlunya setiap orang harus berusaha
  4. semangat bushido [semangat kesatria]. Orang Jepang punya semangat yang tidak pernah luntur, tahan banting, dan tidak mau menyerah
Poin ter penting, pendidikan tidak hanya sekedar proses belajar-mengajar saja, tetapi proses penyadaran untuk menjadikan manusia seutuhnya. Bukan hanya menjadikan manusia sebagai produk keluaran dari sebuah lembaga pendidikan. Pendidikan adalah sebuah sarana untuk menjadikan manusia sebagai "manusia yang sadar diri" dalam sebuah generasi. Manusia yang mengerti apa yang seharusnya dilakukan atau tidak, apa yang baik dan jelek serta mengetahui mana yang hak atau kewajiban. Melahirkan manusia yang seperti ini adalah hakikat dari sebuah pendidikan.
Pada dekade 70-an Negara kita merupakan negara percontohan dalam bidang pendidikan. Bahkan dosen-dosen kita banyak yang diekspor ke Malaysia. Kini mereka bisa mendendangkan yel-yel "Malaysia Truly Asia", karena siapa?. Sungguh miris mengenang semua itu. Tapi sebagai generasi penerus, kita harus yakin bahwa tidak pernah ada kata terlambat untuk memperbaiki semua itu. Jepang yang pernah luluh lantak ketika Hiroshima dan Nagasaki dibom oleh sekutu bisa menjadi nomor satu di Asia. Kenapa kita tidak mengaca kepadanya?.

























CATATAN

1.      Di Jepang, Orangtua sudah menetapkan masa depan anak sejak kecil (sblm anak mulai sekolah). Di rumah ibu mengawasi anaknya belajar, mengirim ke tempat les/mendatangkan guru les ke rumah. Sekolah yang elit sejak SD hingga Universitas akan mendatangkan masa depan yg cerah, karena banyak perusahaan Jepang yg memilih pegawainya dr universitas-universitas ternama (bahkan sudah dipilih dan dipesan sejak orang itu masih berstatus mahasiswa yg lulusnya nanti akan bekerja di perusahaan itu.
2.      Dulu hingga tahun 2000, disiplin pada pendidikan Jepang sangat ketat dan jadwalnya padat sehingga banyak yang stress dan bunuh diri atau menindas teman-temannya. Untuk mengatasinya, maka pendidikan Jepang dirubah yang disebut "Yutori Kyouiku”, yaitu pendidikan yang lebih longgar. Misalnya hari Sabtu diliburkan dan buku pelajaran lebih tipis. Namun akibatnya siswa jadi lebih bodoh. Sistem ini pun dihapus, lalu diganti dengan istilah "datsu yutori kyouiku”, Sabtu tetap libur, tp buku jadi tebal kembali. Selain itu, di jaman sekarang lulusan Todai (Universitas Tokyo) sudah tidak menjadi favorit lagi karena image mahasiswa Todai itu terlalu rajin belajar, terlalu pintar, kurang gaul, cupu, dan sebagainya. Jaman sekarang juga kemungkinan untuk bisa diterima di sekolah favorit sangat besar, karna sensus penduduk Jepang (koureika shakai) menyatakan bahwa jumlah anak muda lebih sedikit daripada jumlah org tua. Oleh karena itu, Jmlh murid yang sedikit menyebabkan pesaingnya pun sedikit. Bahkan ada sekolah ditutup karna kekurangan murid.
3.      Pendidikan umum di Jepang tentang dunia internasional itu sangat minim, mereka tdk diajarkan bahasa asing yang benar sesuai standar, peta dunia, sejarah dunia, politik, ekonomi, dsb. Pendidikan mereka hanya berpusat di Jepang saja. Kalau pun org Jepang tau tentang dunia luar, itu hanya orang yg sering keluar negri, kuliah bhs asing/internasional, yg jmlhnya sedikit. Sejarah mereka pun ada yg tdk sebenarnya (ditutup-tutupi). Contohnya mereka tdk tau kalau mereka pernah menjajah bangsa asing yaitu Indonesia.